Transisi Energi Hijau, Dimensi Baru Daya Saing Kawasan Industri

Friday, 25 September 2026

Di kawasan industri Jababeka, Cikarang, sebanyak 23 perusahaan tenant telah memasang panel surya atap dengan total kapasitas 14,5 MWp hingga September 2026. Instalasi ini menyusul kapasitas 230 kWp yang lebih dulu terpasang di fasilitas pengolahan air kawasan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan energi bersih di kawasan industri kini bergerak dari wacana menuju praktik di lapangan.

Perubahan ini sejalan dengan arah kebijakan energi nasional. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, bauran energi baru terbarukan ditargetkan naik dari 12% pada 2024 menjadi 34,3% pada 2034, seiring penambahan kapasitas pembangkit hingga 69,5 GW yang sebagian besar berasal dari energi terbarukan dan penyimpanan energi.

Di sisi lain, kebutuhan listrik sektor data center diproyeksikan melonjak dari sekitar 1.098 MW pada 2025 menjadi 5.226 MW pada 2034, dengan sebagian besar terpusat di Cikarang, Karawang, dan Jabodetabek. Artinya, kawasan industri kini menghadapi kebutuhan ganda, yakni menyediakan pasokan listrik besar sekaligus menjawab preferensi tenant terhadap energi yang lebih bersih.

Riset Knight Frank Indonesia mencatat, dalam lima tahun terakhir, sektor kendaraan listrik, data center, dan kimia menjadi tiga penyerap lahan industri terbesar di Greater Jakarta. Ketersediaan pasokan listrik yang andal, termasuk opsi energi terbarukan, mulai menjadi salah satu pertimbangan lokasi bagi tenant berintensitas energi tinggi seperti ini.

Knight Frank Indonesia juga menyoroti bahwa pertumbuhan data center berjalan beriringan dengan tantangan pasokan listrik dan isu lingkungan, sehingga adopsi energi hijau menjadi bagian penting bagi keberlanjutannya. Kondisi ini mendorong pengembang kawasan menyesuaikan infrastruktur kelistrikan, dari panel surya atap hingga sistem penyimpanan energi baterai, agar tetap kompetitif dan menarik investasi.

Data mencatat serapan lahan industri di Greater Jakarta sepanjang 2025 mencapai 318,3 ha, dengan industri kendaraan listrik menyumbang 18% dari total serapan, diikuti oleh sektor data center.

Bagi pengembang kawasan, tren ini memberi dimensi baru pada daya saing, di luar ketersediaan lahan dan konektivitas logistik. Kesiapan infrastruktur energi hijau berpotensi menjadi pembeda antara kawasan konvensional dan kawasan yang mampu menjawab kebutuhan tenant masa depan, meski premium nilai properti akibat faktor ini belum tercermin secara eksplisit pada data transaksi yang tersedia saat ini.

Ke depan, kawasan industri yang mampu mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam infrastruktur dasarnya berpotensi mendapat porsi lebih besar dari investasi manufaktur berintensitas energi tinggi dan data center, dua sektor yang diproyeksikan tetap menjadi penggerak utama serapan lahan industri Indonesia hingga pertengahan dekade mendatang.

Transisi energi saat ini tengah diperhitungkan bukan sekadar agenda keberlanjutan, melainkan mulai menjadi bagian dari kalkulasi bisnis kawasan industri untuk jangka panjang.

 

Penulis: Junilla Tristanti

Sumber:

https://kfmap.asia/blog/sektor-unggulan-yang-mengisi-lahan-industri-di-greater-jakarta-dalam-5-tahun-terakhir/4712 

https://kfmap.asia/blog/data-center-salah-satu-primadona-kawasan-industri-di-indonesia/3948 

https://ebtke.esdm.go.id/

https://konstruksimedia.com/ 

https://mediaindonesia.com/

https://teknologi.bisnis.com/ 

Share:
Back to Blogs