Tarif AS Turun untuk India: Bagaimana Dampaknya bagi Industri Indonesia?

Friday, 13 February 2026

Baru-baru ini, Amerika Serikat dan India melaksanakan sebuah perjanjian sementara, disebut juga sebagai interim agreement, yang menitikberatkan perdagangan global yang menguntungkan kedua belah pihak. Singkatnya, perjanjian tersebut memuat penurunan tarif AS terhadap India dari 50% menjadi 18%. India pun menghapus tarif reciprocal terhadap produk-produk AS.

Tentu, kabar ini merupakan kabar baik bagi pelaku industri, terutama India dan China. Jika menilik strategi china plus one/many, India merupakan salah satu alternatif tujuan untuk ekspansi atau relokasi industri dalam rangka menghindari kerugian tarif AS di Tiongkok. Lalu, apakah informasi ini dapat menurunkan performa sektor industri di Indonesia?

Dari sektor logistik dan pergudangan, untuk mengurangi risiko tarif AS, pelaku industri tiongkok mulai relokasi aktivitasnya ke Asia Tenggara dan India. Knight Frank Asia-Pacific dalam Logistics Highlights H2 2025 mengatakan bahwa harga sewa di India terus bertumbuh hingga 1,5% di paruh kedua tahun 2025, padahal tarif AS saat itu masih 50%. Meski okupansi mengalami penurunan, India diprediksi akan mengalami pertumbuhan meningkat karena penurunan tarif oleh Amerika Serikat. Sementara itu, Indonesia yang diwakili dengan Greater Jakarta, juga menunjukkan tren dan prediksi yang sama.

1% lebih mahal di Indonesia, apakah Tiongkok akan lebih fokus melakukan aktivitas Industri di India?

Perbedaan tarif ini tidak semata-mata mempengaruhi performa industri di kedua negara atau negara lain yang menjadi tujuan Tiongkok dalam menjalankan strateginya. Selain Indonesia dan India, terdapat juga beberapa negara yang menjadi implementasi strategi china plus one/many yakni Vietnam, Meksiko, Polandia dan negara-negara lainnya. 

Vietnam melalui HCMC juga memiliki performa sektor logistik yang serupa bahkan memiliki pertumbuhan sewa sebesar 2,8% HoH, lebih tinggi daripada India dan Greater Jakarta. Dengan tarif AS 20%, Vietnam bisa memiliki performa yang serupa bahkan lebih bagus dari kedua negara yang sedang kita bicarakan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tiap negara memiliki spesialisasi masing-masing yang telah ditetapkan oleh Tiongkok dalam implementasi strategi china plus one/many.

India kini telah menjadi pusat produksi teknologi tinggi dalam skala besar. Contohnya yaitu Apple yang melakukan diversifikasi produknya, iPhone, ke India. Produksinya diprediksi akan mencapai 25% dari total seluruh iPhone di dunia pada tahun 2026. Sedangkan Indonesia memiliki peran kuat dalam kebijakan hilirisasi Industri seperti produksi EV-related dan karet yang membutuhkan bahan mentah seperti Nikel. 

Negara lainnya juga memiliki spesialisasi masing-masing, seperti Vietnam dengan produksi gadget dan tekstil, Meksiko dengan keunggulannya yaitu nearshoring dengan Amerika Serikat, dan juga Polandia yang menjadi entry point manufaktur di Eropa.

Pada akhirnya, interim agreement AS–India tidak serta-merta mengalihkan fokus relokasi industri dari Indonesia ke India. Strategi china plus one/many menekankan diversifikasi, bukan pemusatan produksi pada satu negara dengan tarif lebih rendah. Selama Indonesia terus memperbaiki kekurangannya dan menjaga keunggulannya, selisih tarif bukanlah faktor penentu utama dalam peta relokasi global.

 

Penulis : Jovan Rafkhansa

Sumber :

https://kfmap.asia/blog/bukti-nyata-kebijakan-tarif-as-pasar-pergudangan-di-asia-pasifik-paruh-kedua-tahun-2025/4692

https://kfmap.asia/research/asia-pacific-logistics-highlights-h2-2025/4700

https://jatim.pikiran-rakyat.com/

https://money.kompas.com/

https://www.antaranews.com/

https://www.idnfinancials.com/

Share:
Back to Blogs