Indonesia menyimpan "emas hitam" yang luar biasa di wilayah Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, yang secara populer dikenal sebagai Aspal Buton atau Asbuton. Berbeda dengan aspal minyak yang merupakan produk sisa dari kilang minyak bumi, asbuton merupakan wujud aspal alam murni dalam bentuk endapan batuan pada hamparan tanah yang luas.
Potensi cadangannya sangat fantastis, diperkirakan mencapai lebih dari 600 juta ton yang menjadikannya sebagai salah satu deposit aspal alam terbesar di dunia. Keberadaan asbuton ini jelas merupakan harta karun yang mampu menopang percepatan pengembangan infrastruktur jalan secara berdikari dan berkelanjutan.
Meski demikian, terdapat sebuah anomali dalam pemanfaatannya. Pada faktanya, negara maju seperti China lebih berminat menggunakan aspal buton untuk rencana investasi mereka di Pulau Buton, sementara penyerapan di dalam negeri masih belum maksimal karena tingginya persentase penggunaan aspal minyak impor.
Merespons hal ini, pemerintah kini menggeser fokus pada percepatan program hilirisasi industri asbuton dengan pembangunan ekosistem dan fasilitas produksi di Karawang yang bertujuan untuk meningkatkan nilai jual komoditas dalam bentuk produk jadi. Selain menekan ketergantungan impor aspal, langkah ini diperkirakan mampu mendongkrak perputaran ekonomi nasional hingga Rp 22,67 triliun berdasarkan data Gapensi.
Kualitas infrastruktur jalan merupakan urat nadi penentu kesuksesan dari pengembangan suatu kawasan. Penggunaan produk hilirisasi asbuton yang menciptakan jalan dengan tingkat ketahanan tinggi akan memberikan multiplier effect bagi sektor properti. Aksesibilitas yang stabil dan prima akan langsung mengerek nilai aset properti, baik untuk peruntukan residensial maupun industri. Konektivitas infrastruktur yang mulus menjamin kelancaran arus logistik serta mobilitas penghuni, mengubah kawasan yang dulunya kurang menarik menjadi magnet investasi properti yang sangat bernilai.
Pada akhirnya, pengembangan asbuton melalui hilirisasi industri bukan sekedar wujud kemandirian sumber daya infrastruktur, tetapi juga sebagai pemicu masuknya investasi yang menggerakkan roda perekonomian. Pengembangan infrastruktur ini secara berangsur akan membuka koridor pertumbuhan properti yang baru.
Penulis : Mu’amar Khadafi
Sumber :
https://kfmap.asia/blog/upaya-hilirisasi-industri-di-indonesia/1766
https://www.goodnewsfromindonesia.id/
https://ekonomi.bisnis.com/
https://www.kompas.com/
https://kemenkoinfra.go.id/