Kredit Properti Tumbuh 18,3%, Bagaimana Pasar Bergerak?

Friday, 2 October 2026

Menurut BI, angka kredit properti perbankan tumbuh 18,3% secara tahunan pada Agustus 2026 dan mencapai Rp1.724,7 triliun. Angka ini lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan, yaitu sekitar 13,3%. Namun, angka tersebut menggambarkan pembiayaan dari bank, bukan pertumbuhan penjualan, harga, atau seluruh pasar properti.

Pertumbuhannya pun tidak merata. Kredit konstruksi melonjak 49,5%, sedangkan Kredit Pemilikan Rumah dan Apartemen (KPR dan KPA) hanya naik 4,2%. Porsi kredit konstruksi hanya sekitar sepertiga dari total kredit properti, tetapi menyumbang sekitar 73% dari tambahannya dalam setahun, berdasarkan perhitungan dari data BI.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pembiayaan di sisi pengembangan bergerak jauh lebih cepat daripada pembiayaan untuk membeli hunian. Meski begitu, cakupan kredit konstruksi lebih luas daripada pembangunan hunian.

Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) menilai pertumbuhan kredit ini ditopang oleh proyek strategis nasional, infrastruktur dasar, kawasan industri, dan proyek properti yang telah memiliki komitmen pembiayaan. Sementara itu, BI menilai kebijakan makroprudensial yang longgar dan minat bank menyalurkan kredit ikut mendukung intermediasi perbankan.

Di pasar residensial, sisi permintaan terlihat lebih moderat. Survei Harga Properti Residensial BI triwulan II 2026 mencatat harga di pasar primer naik 0,69% secara tahunan, sedangkan penjualan masih turun 2,36%, meski jauh lebih ringan daripada penurunan 25,67% yang terjadi pada triwulan sebelumnya.

KPR masih menjadi skema pembelian utama dengan pangsa 70,05%, sehingga akses pembiayaan konsumen tetap penting. Dalam konteks itu, BI mempertahankan BI-Rate di 5,75% pada September 2026 setelah menaikkannya 100 bps pada triwulan II. Di sisi pengembang, hampir tiga perempat kebutuhan pembiayaan pembangunan masih dipenuhi dari dana internal.

Angka pertumbuhan kredit 18,3% lebih tepat dibaca sebagai tanda bahwa pembiayaan di sisi pengembangan bergerak cepat, namun bukan semata-mata sebagai refleksi bahwa pasar properti tumbuh secepat itu.

Kredit konstruksi memberi ruang bagi aktivitas pembangunan, tetapi belum otomatis berarti transaksi, selama KPR hanya tumbuh 4,2% dan penjualan pasar primer masih turun. Pemulihan KPR dan daya beli segmen menengah akan menentukan seberapa jauh pembiayaan itu berujung pada penjualan hunian.

 

Penulis: Junilla Tristanti

Sumber:

https://kfmap.asia/blog/kelas-menengah-di-q1-2026-masih-menopang-properti-residensial-indonesia/4992 

https://www.bi.go.id/

https://dewanekonomi.go.id/

https://www.antaranews.com/

https://keuangan.kontan.co.id/ 

Share:
Back to Blogs