Realisasi investasi di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp69,30 triliun berdasarkan perhitungan metodologi bottom-up BP Batam. Saat ini arus investasi telah melampaui target yang dipatok sebesar Rp60 triliun atau setara dengan 115% dari target. Angka ini mencakup realisasi aset produktif secara menyeluruh, seperti mesin, alat produksi, dan fasilitas industri yang langsung digunakan untuk kegiatan operasional investor di Batam.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menyebut capaian ini sebagai sinyal kuat bahwa Batam tengah bertransformasi menjadi pusat ekonomi digital dan energi berkelanjutan di kawasan regional, seiring melesatnya investasi di sektor digital dan energi yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 6,76%.
Dari sisi sektoral, sektor jasa yang mencakup digitalisasi menjadi penyumbang terbesar dengan realisasi Rp9,99 triliun, disusul industri mesin, elektronik, dan peralatan listrik senilai Rp6,08 triliun, serta sektor listrik, gas, dan air sebesar Rp5,80 triliun.
Tingginya investasi di sektor energi ini menunjukkan bahwa infrastruktur kelistrikan menjadi prioritas utama, mengingat operasional data center membutuhkan pasokan daya yang besar dan stabil.
Sementara itu, di kawasan ekonomi khusus, KEK Nongsa mencatat penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 836 orang pada kuartal IV 2025, dengan dampak tidak langsung yang lebih luas melalui rantai pasok dan layanan pendukung.
Untuk menjaga keberlanjutan, BP Batam mendorong integrasi energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ke dalam roadmap pengembangan kawasan, agar Batam memenuhi standar Environmental, Social, and Governance (ESG) yang menjadi syarat utama investasi global di sektor data center.
Tren tersebut juga tercermin dalam riset properti. Pertumbuhan sektor data center kini mengerek nilai tanah di kawasan industri strategis, termasuk Batam, seiring ekspansi pemain teknologi global maupun lokal. Batam bahkan mulai dilirik sebagai calon hub data center regional berkat keunggulan konektivitas lintas negara.
Sejalan dengan itu, riset Knight Frank Data Centre Atlas 2026 mencatat bahwa nilai pasar data center global pada tahun 2025 telah stabil (stabilised) tumbuh 39,3% dibandingkan dengan 2024, mencapai USD 1,95 triliun.
Ke depan, sebanyak 48 GW kapasitas baru diperkirakan akan dibangun antara tahun 2026 sampai tahun 2029, merepresentasikan kenaikan 77% dari volume pasokan global saat ini, dengan kapasitas khusus AI diproyeksikan melonjak dari 8 GW menjadi 27 GW atau setara dengan 24,5% dari total kapasitas yang beroperasi.
Tren pertumbuhan kapasitas data center secara global ini turut relevan dengan posisi Batam yang tengah gencar menarik investasi digital. Dengan permintaan kapasitas AI dan data center dunia yang diproyeksikan melonjak tajam hingga 2029, Batam berpeluang mengambil bagian dari pergeseran investasi tersebut, yang didukung oleh konektivitas lintas negara serta komitmen BP Batam dalam mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam kawasan industri.
Momentum tersebut menegaskan bahwa Batam tidak lagi sekadar kawasan industri manufaktur konvensional, melainkan mulai bertransformasi menjadi salah satu simpul baru ekonomi digital di kawasan regional.
Penulis : Roki Abdillah
Sumber :
https://kfmap.asia/research/data-centre-atlas-2026/5191
https://kfmap.asia/blog/data-center-salah-satu-primadona-kawasan-industri-di-indonesia/3948
https://ptsp.bpbatam.go.id/
https://properti.kompas.com/
https://bpbatam.go.id/