Ketika Data Center Batam Butuh Air, Bukan Cuma Listrik dan Lahan

Friday, 25 September 2026

Pada pertengahan September 2026, Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) memastikan aturan baru bagi industri pusat data, di mana setiap perusahaan pusat data yang masuk ke Batam wajib membangun instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) sendiri. Kebijakan ini bukan imbauan, melainkan syarat investasi sebab air waduk kini murni diprioritaskan untuk kebutuhan rumah tangga.

Persoalannya, pasokan air baku Batam tidak elastis. Riset Universitas Islam Negeri Sumatera Utara memproyeksikan pasokan waduk sekitar 404,5 juta liter per hari pada 2026, sementara kebutuhan air bersih penduduk mencapai 248,5 juta liter per hari. Secara teori masih surplus, tetapi surplus itu terus menyusut akibat sedimentasi dan kerusakan daerah tangkapan air.

Di sisi lain, ekspansi data center menambah beban baru pada sistem yang sudah ketat itu. Saat beroperasi penuh pada 2032, kebutuhan air sepuluh data center di Batam diproyeksikan mencapai 32 juta liter per hari, atau sekitar 8,4% dari total pasokan air saat ini. Porsi besar untuk industri yang selama ini lebih dikenal lewat kebutuhan listrik.

Karena itu, SWRO hadir bukan sebagai opsi ramah lingkungan semata, melainkan sebagai solusi struktural. Teknologi desalinasi ini mengubah air laut menjadi air tawar, memungkinkan data center memenuhi kebutuhan operasionalnya tanpa mengambil jatah air baku warga. BP Batam menegaskan aturan detail soal kapasitas dan skema pembangunan SWRO masih dirumuskan, namun kewajibannya sudah final.

Contoh konkretnya terlihat pada DayOne, salah satu pengembang data center di Batam. Kepala BP Batam Amsakar Achmad menyebut persetujuan pengembangan mereka diberikan dengan syarat membangun SWRO senilai sekitar Rp180 miliar, yang nantinya diserahkan kepada BP Batam untuk dikelola dan berpotensi turut menopang pasokan air warga sekitar.

Bagi sektor properti, pola ini menandai pergeseran penting. BP Batam kini menerapkan prinsip utilitas dahulu, investasi kemudian, di mana investor data center wajib menyiapkan infrastruktur listrik dan air sejak awal, sebelum lahan digunakan. Kesiapan air pun berubah status, dari layanan pendukung menjadi bagian dari syarat kesiapan infrastruktur kawasan industri.

Implikasinya meluas ke daya saing lokasi. Sebagai pulau tanpa sungai besar, Batam bergantung penuh pada waduk tadah hujan, sehingga kemampuan menyediakan sumber air mandiri dapat menjadi pembeda antarkawasan dalam menarik investor. Kesiapan air berpotensi menjadi salah satu pertimbangan dalam pemilihan lokasi data center ke depan, sejajar dengan listrik dan konektivitas.

Batam menunjukkan bahwa kesiapan infrastruktur properti berintensitas tinggi tidak lagi berhenti pada listrik dan lahan. Utilitas air kini turut menentukan kelayakan investasi, dan kawasan yang lebih dulu menyiapkannya berpeluang memimpin gelombang investasi data center berikutnya.

 

Penulis: Junilla Tristanti

Sumber:

https://katadata.co.id/ 

https://metropolis.batampos.co.id/ 

https://m.antaranews.com/ 

https://jurnal.uinsu.ac.id/

https://m.antaranews.com/ 

Share:
Back to Blogs