Penurunan muka tanah atau land subsidence masih menjadi tantangan di pesisir Jakarta Utara, meskipun lajunya mulai melambat. Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta mencatat laju penurunan tanah di Muara Angke turun dari sekitar 7 cm per tahun pada tahun 2023 menjadi sekitar 4,5 cm per tahun pada tahun 2025, sedangkan di Pluit masih sekitar 5,5 cm per tahun.
Perbedaan laju tersebut menunjukkan bahwa risiko banjir rob tidak sama di setiap lokasi. Saat ini, perlindungan pesisir Jakarta masih mengandalkan tanggul di sepanjang garis pantai sebagai bagian dari program National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).
Hingga Juli 2026, Kementerian PU telah menyelesaikan 14,85 km tanggul dari porsi 15,70 km yang ditargetkan rampung pada tahun 2027. Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta melanjutkan pembangunan di Pluit, Muara Angke, dan Kali Lencong.
Berbeda dengan tanggul pantai, pembangunan Giant Sea Wall direncanakan di perairan lepas, sejauh 4-6 km dari pesisir. Proyek yang dikelola Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa ini ditujukan untuk melindungi pesisir utara Jawa sepanjang sekitar 575 km.
Groundbreaking yang semula ditargetkan pada September 2026 bergeser, dan tahap awalnya dimulai melalui percontohan berbasis mangrove di Demak pada Oktober 2026. Struktur tanggul laut diperkirakan baru dimulai pada tahun 2027, dengan penyelesaian dalam 20 tahun, sehingga manfaatnya bagi Jakarta Utara masih bersifat jangka panjang.
Dalam konteks properti, perlindungan pesisir berkaitan erat dengan cara pasar menilai risiko lokasi. Pembeli, penyewa, maupun pelaku investasi properti umumnya mempertimbangkan potensi genangan, biaya pemeliharaan bangunan, dan gangguan akses.
Oleh karena itu, perlindungan pesisir berpotensi menciptakan perbedaan prospek antarkawasan dan antarsegmen properti. Contohnya, Kawasan pergudangan dan logistik di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok yang dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya kepastian operasional, karena genangan dapat mengganggu arus barang.
Sementara itu, kawasan hunian pesisir lebih mempertimbangkan kenyamanan tempat tinggal dan biaya pemeliharaan jangka panjang, yang bergantung pada elevasi lahan, drainase, serta kapasitas pompa dan polder setempat.
Meski demikian, infrastruktur pengendalian banjir yang lebih kuat tidak otomatis meningkatkan nilai properti atau investasi, karena nilai lokasi tetap dipengaruhi oleh aksesibilitas, kondisi bangunan, dan permintaan pasar. Giant Sea Wall tidak serta-merta menghentikan penurunan muka tanah, sehingga pengendalian pengambilan air tanah tetap diperlukan.
Dengan demikian, prospek properti Jakarta Utara berpotensi semakin ditentukan oleh tingkat ketahanan setiap kawasan terhadap risiko pesisir, bukan semata-mata kedekatannya dengan infrastruktur perlindungan. Kawasan dengan elevasi memadai, drainase andal, dan penurunan tanah terkendali berpeluang memiliki prospek pengembangan kawasan yang lebih kuat, terlebih jika ketahanan pesisir dijaga secara menyeluruh.
Penulis: Junilla Tristanti
Sumber:
https://kfmap.asia/blog/menuju-tahap-groundbreaking-giant-sea-wall-titik-awal-dimulai-dari-pantura-jawa/4902
https://dsda.jakarta.go.id/
https://ekonomi.bisnis.com/
https://kumparan.com/
https://www.antaranews.com/
https://katadata.co.id/
https://jogja.viva.co.id/