Perubahan iklim telah menyebabkan berbagai permasalahan lingkungan secara global, salah satunya peningkatan permukaan air laut (rising sea level). Ibu kota Indonesia, Jakarta ternyata tidak luput dari permasalahan ini, terutama di kawasan pesisir. Meskipun pesisir Jakarta terkenal dengan banyaknya perumahan elit, tetapi kawasan hunian ini tengah menghadapi tantangan dinamika lingkungan.
Kawasan perumahan yang mendominasi Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara ini memang banyak memberi berbagai penawaran strategis. Kawasan perumahan di sini menawarkan pemandangan langsung ke panorama Teluk Jakarta, dilengkapi dengan banyaknya restoran, area komersial, serta akses tol yang mudah. Selain itu, beberapa kompleks di pesisir ini juga menawarkan fasilitas dermaga yacht pribadi yang tentunya menarik bagi segmen pasar properti high-end di Jakarta Utara.
Di balik kemewahan yang ditawarkan, kawasan perumahan elit di pesisir Jakarta saat ini menghadapi kondisi ketinggian air laut yang berada di atas permukaan tanah, disiasati dengan tembok atau tanggul setinggi 2 meter. Namun, tanggul tersebut banyak dilaporkan bocor atau rembes bulan November lalu. Selain itu, permukaan air laut yang kian meningkat juga memberi risiko banjir rob yang dapat merendam jalan raya setempat.
Pemerintah provinsi setempat juga telah merespons persoalan tanggul air laut yang bocor di perumahan pesisir Jakarta Utara. Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta telah melakukan survei lapangan serta pemetaan kebocoran tanggul per November 2025 kemarin. Setelah pemetaan, Dinas SDA melakukan perencanaan elevasi tanggul agar lebih tinggi dan dapat menahan terjangan air laut.
Meskipun perumahan ini tidak bisa lepas dari keterbatasan kawasan pesisir, kawasan ini tetap menjadi salah satu pilihan lokasi residensial high-end. Harga properti hunian di kawasan ini bisa mencapai miliaran rupiah per unitnya. Hal ini mencerminkan kompleks hunian yang memiliki prestise, akses yang mudah, hingga ketersediaan fasilitas penunjang perumahan lainnya.
Pengembangan kawasan serta infrastrukturnya harus mempertimbangkan isu-isu lingkungan yang ada, seperti halnya risiko peningkatan permukaan air laut pada wilayah pesisir. Antisipasi terkait keterbatasan wilayah diperlukan agar pengembangan properti dapat produktif dan berkelanjutan.
Penulis : Grace Olivia
Sumber :
https://www.cnnindonesia.com/
https://www.detik.com/
https://wartakota.tribunnews.com/