Geliat pasar properti Indonesia pada 2026 menunjukkan arah yang menarik untuk dicermati. Ketika pertumbuhan secara nasional masih bergerak hati-hati, koridor barat Jakarta, yang mencakup Tangerang dan wilayah Banten, justru menunjukkan performa positif.
Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) di pasar primer pada triwulan II 2026 secara tahunan hanya tumbuh terbatas, sementara penjualan properti residensial primer nasional masih mengalami kontraksi 2,36% (yoy), meski penyusutannya jauh lebih kecil dibandingkan kontraksi 25,67% (yoy) pada triwulan sebelumnya.
Di tengah perlambatan tersebut, wilayah Banten menunjukkan tren yang kontras. Indeks permintaan properti komersial sewa di Banten melonjak 127,48% (yoy) pada triwulan IV, meningkat sekitar 2% dari triwulan sebelumnya.
Segmen ritel sewa tumbuh lebih tinggi lagi, mencapai 129,84% (yoy). Indeks permintaan komersial jual juga mengalami pertumbuhan hingga 108,99% (yoy) yang didukung oleh terbatasnya pertumbuhan pasokan komersial sewa sebesar 3,64% (yoy). Hal ini menandakan bahwa permintaan jauh melampaui laju pasokan baru di kawasan ini.
Secara spasial, data IHPR Bank Indonesia turut mengonfirmasi penguatan koridor barat tersebut. Pada triwulan II 2026, kenaikan harga rumah primer tertinggi secara kuartalan (qtq) justru terjadi di dua wilayah, yakni Pekanbaru dan Jabodebek-Banten, dengan IHPR kawasan tersebut melonjak ke 0,23% (qtq), meningkat dari 0,04% (qtq) pada triwulan sebelumnya.
Capaian tersebut kontras dengan kondisi pada triwulan I 2026, ketika 10 dari 18 kota yang disurvei BI justru mengalami perlambatan pertumbuhan harga rumah dan 3 kota lainnya mencatat penurunan IHPR secara tahunan, menegaskan bahwa Jabodebek-Banten menjadi salah satu kawasan dengan ketahanan harga properti residensial terbaik di tengah pelemahan pasar nasional.
Kawasan terpadu menjadi magnet utama di balik tren tersebut. BSD City, kota mandiri seluas 6.000 hektare dengan lebih dari 70 klaster perumahan, terus berekspansi seiring hadirnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) ETKI Banten yang melengkapi ekosistemnya menuju basis ekonomi berbasis pengetahuan.
Pengembangnya juga mencatatkan prapenjualan Rp10,04 triliun sepanjang 2025, tumbuh 3% secara tahunan, mencerminkan keyakinan pasar terhadap ketahanan permintaan di koridor barat tersebut.
Ekspansi komersial turut berlanjut dengan hadirnya proyek-proyek baru seperti Victoria District seluas sekitar 10 hektare yang difokuskan untuk pengembangan produk komersial, melengkapi kawasan kota mandiri terintegrasi seperti BSD City dan juga Gading Serpong.
Konektivitas yang kuat turut memperkuat daya tarik kawasan tersebut, dengan akses empat ruas tol utama, yaitu Jakarta–Tangerang, Jakarta–Serpong, Serpong–Balaraja, dan Kunciran–Serpong, serta jaringan KRL Commuter Line yang menghubungkan kawasan langsung ke Jakarta.
Dengan kombinasi permintaan tinggi, dominasi end user, serta ekspansi kawasan terpadu dan infrastruktur konektivitas, Tangerang dan Banten diproyeksikan terus memimpin pergeseran pusat pertumbuhan properti dari Jakarta menuju koridor barat dalam beberapa tahun ke depan.
Penulis : Roki Abdillah
Sumber :
https://www.bi.go.id/
https://www.kompas.com/
https://konstruksimedia.com/
https://propertiterkini.com/
https://www.tempo.co/