Walkability kini bukan sekadar konsep perencanaan ruang kota, melainkan strategi berbasis data yang terbukti mampu meningkatkan nilai ekonomi kawasan, khususnya pada sektor ritel, hunian, dan perkantoran. Dalam konteks keterbatasan lahan perkotaan, integrasi antara aksesibilitas dan walkability, khususnya dalam pengembangan kawasan mixed-use, menjadi kunci dalam menciptakan kawasan bernilai tinggi.
Dalam penelitian Knight Frank dengan Space Syntax di London, tingkat atau skor walkability suatu kawasan berkorelasi kuat dengan nilai kawasan tersebut. Dari sebanyak 140.000 sampel properti perkantoran, hunian, dan ritel yang dianalisis dan keterjangkauannya dengan 9.000 fasilitas publik yang mengundang trafik pejalan kaki, disimpulkan bahwa perpaduan antara kemudahan akses dan mixed-use mampu mendongkrak nilai properti atau lahan di suatu kawasan.
Apabila meninjau dari sisi bisnis ritel, walkability memiliki pengaruh langsung yang signifikan. Kawasan mixed-use dengan tingkat walkability tinggi bahkan mampu mencatat pertumbuhan nilai sewa hingga dua kali lipat dibandingkan dengan rata-rata pasar. Selain itu, dalam studi yang sama ketika membandingkan dua kawasan dengan tingkat walkability berbeda, kawasan dengan skor tinggi (88/100) memiliki 208 unit nonhunian, jauh lebih banyak dibanding kawasan dengan skor rendah yang hanya memiliki 66 unit. Hal ini secara langsung mencerminkan peningkatan peluang bisnis ritel akibat tingginya aktivitas pejalan kaki.
Selain itu, walkability juga menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian kawasan secara lebih luas. Sebagai contoh, dalam penelitian yang sama, Knight Frank menyatakan bahwa kawasan mixed-use yang dirancang dengan baik mampu mendukung lebih dari 2.000 lapangan kerja dalam satu kawasan perencanaan. Hal ini menunjukkan bahwa walkability tidak hanya meningkatkan nilai properti secara langsung, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi lokal secara menyeluruh.
Dalam konteks pengembangan perkotaan di Indonesia, urgensi penerapan konsep ini semakin tinggi. Keterbatasan lahan yang menghantui ruang kota mendorong perencana dan pengembang properti untuk mengadopsi konsep mixed-use yang ramah pejalan kaki. Pendekatan tersebut tidak hanya memungkinkan optimalisasi fungsi lahan, tetapi juga menciptakan daya tarik bagi bisnis ritel dan hunian.
Perlu diingat bahwa iklim tropis kota-kota besar di Indonesia dapat menjadi tantangan terbesar dalam menciptakan kawasan yang walkable. Selain mengembangkan kawasan dengan beragam fungsi, pengembang properti perlu mengimbanginya dengan pembangunan infrastruktur pejalan kaki dan sepeda untuk menciptakan kenyamanan pengguna yang akan mengundang trafik.
Pada akhirnya, kombinasi fasilitas perkotaan, mulai dari konektivitas jaringan jalan, keragaman fungsi ruang, hingga kenyamanan dan keamanan infrastruktur pejalan kaki, terbukti mampu meningkatkan nilai properti suatu kawasan. Lebih dari itu, integrasi faktor-faktor tersebut juga menjadi fondasi penting dalam membentuk kawasan perkotaan yang resilien dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Penulis: Nareswari Dahayu
Sumber:
https://kfmap.asia/blog/mixed-use-sebagai-alternatif-keterbatasan-lahan-di-perkotaan/3431
https://www.knightfrank.com/research/report-library/walkability-and-mixed-use-making-valuable-and-healthy-communities-7667.aspx
https://www.knightfrank.com/esg-report
https://itdp-indonesia.org/