Pada 1 September 2026, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung, dan PT Kereta Api Indonesia menandatangani kerja sama pengembangan trem listrik berbasis baterai yang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan Canggu. Trase sepanjang 12 kilometer ini melintasi Kuta, Legian, dan Seminyak, dengan jalur di permukaan tanah dan sebagian elevated di area bandara.
Koridor ini dilalui sekitar 150 ribu orang dan 80 ribu kendaraan setiap hari. Groundbreaking ditargetkan pada Maret 2027; fase pertama Bandara-Legian ditargetkan beroperasi pada kuartal IV 2028, sementara fase Legian-Seminyak-Canggu ditargetkan rampung pada kuartal I 2031.
Rencana ini menggantikan wacana MRT bawah tanah yang digaungkan sejak 2024, namun tak kunjung terealisasi. Trem baterai dipilih karena dinilai lebih sesuai dengan karakteristik Bali dan lebih efisien dari sisi biaya. Perubahan arah infrastruktur ini relevan karena tekanan mobilitas terus meningkat seiring lonjakan pariwisata. BPS Provinsi Bali mencatat 6.948.754 kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali sepanjang 2025, naik 9,72% dibandingkan 2024, mayoritas melalui Bandara Ngurah Rai.
Bagi sektor properti, peningkatan aksesibilitas tidak serta-merta berarti kenaikan harga. Mekanismenya bertahap: konektivitas yang lebih baik berpotensi memperluas daya tarik kawasan di sepanjang koridor, bukan hanya di titik akhir seperti Canggu.
Sebagai benchmark, Knight Frank Indonesia pernah mencatat dalam konteks MRT Jakarta, bahwa properti di sekitar titik transit umumnya dihargai lebih tinggi. Prinsip ini relevan untuk dicermati ketika koridor berbasis transit mulai terbentuk di Bali, meski buktinya belum tentu berlaku dengan skala yang sama.
Sinyal ini perlu dibaca bersama kondisi pasar saat ini. Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia Provinsi Bali mencatat Indeks Harga Properti Residensial pasar primer tumbuh 1,02% yoy pada triwulan II 2026, naik tipis dari 0,87% pada triwulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong terutama oleh biaya bahan bangunan dan upah, bukan lonjakan permintaan. Artinya, pasar properti Bali, termasuk Canggu yang padat vila, berada pada fase pertumbuhan yang lebih terukur.
Dalam konteks ini, trem berpotensi membuka opsi lokasi baru di sepanjang koridor, seperti Kuta dan Legian, sebagai alternatif dari Canggu yang kepadatan pembangunannya sudah tinggi. Bagi pengembang dan investor, ini dapat menjadi peluang diversifikasi. Namun, proyek masih pada tahap awal, sementara riwayat rencana transportasi massal Bali sebelumnya menunjukkan risiko keterlambatan realisasi.
Jika kedua fase ini berjalan sesuai jadwal, koridor Bandara-Kuta-Legian-Seminyak-Canggu berpotensi menggeser sebagian perhatian pasar properti Bali Selatan yang selama ini terpusat di Canggu, membentang lebih merata di sepanjang jalur trem. Sejauh mana pergeseran ini benar-benar terjadi, kemungkinan baru terlihat mendekati tahap konstruksi sampai finalisasi.
Penulis: Junilla Tristanti
Sumber:
https://kfmap.asia/blog/mrt-fase-3-percepat-pembangunan-properti/2574
https://bali.bps.go.id/
https://bali.bisnis.com/
https://badungkab.go.id/
https://www.dewatanews.com/
https://www.nusabali.com/