Peta industri data center di Asia Tenggara tengah bergeser. Ketika Singapura membatasi ekspansi lewat moratorium sejak 2019 dan Johor di Malaysia mulai menghadapi tekanan pasokan listrik, tentu saja Indonesia menjadi destinasi alternatif ekspansi pembangunan data center di ranah regional.
Riset BRI Danareksa Sekuritas yang dipublikasikan pada Agustus 2026 bahkan menyebut Indonesia berpotensi menjadi "kaki ketiga" (third leg) dari segitiga spillover data center regional, setelah Singapura dan Johor.
Berdasarkan riset yang sama, disebutkan bahwa kapasitas terpasang data center Indonesia tercatat sekitar 580 megawatt (MW) pada semester I 2026, dengan pasokan Jakarta lebih ditopang oleh permintaan domestik, sementara pasokan Batam diposisikan sebagai simpul spillover regional, karena posisi geografis/kedekatannya dengan Singapura dan akses kabel bawah laut.
Sebelumnya, Asosiasi Penyedia Data Center Indonesia (IDPRO) mencatat kapasitas nasional tumbuh dari 190 MW pada Oktober 2024 menjadi 290 MW pada Juni 2025. Naik lebih dari 52% dalam kurang dari setahun dan diproyeksikan menembus 2,7 gigawatt (GW) pada 2030.
Meski tren pertumbuhannya positif, posisi Indonesia masih tertinggal dari tetangganya. Riset "Powering the Future: Advancing Green Data Centers in Indonesia" pada tahun 2026, mencatat kapasitas data center Indonesia baru 456 MW, jauh di bawah Singapura yang telah mengoperasikan lebih dari 1,4 GW dan Malaysia sebesar 1,3 GW.
Dari sisi investasi, Knight Frank Asia-Pacific Data Centre Report Q2 2025 mencatat hampir 13 GW proyek data center baru diumumkan di Asia Pasifik sejak awal 2025, dengan kebutuhan modal lebih dari USD 750 miliar, sementara lebih dari 250 MW kapasitas telah disewa di Johor saja. Itu yang menegaskan derasnya investasi hyperscale berbasis kecerdasan buatan (AI) di kawasan.
Kesiapan infrastruktur digital menjadi kunci untuk menangkap peluang ini. Knight Frank Indonesia mencatat bahwa, data center menyumbang lebih dari 22% dari transaksi lahan industri di Greater Jakarta, pada semester satu tahun 2026.
Skala investasi ini turut tercermin dari data Kementerian Investasi/BKPM, yang mencatat realisasi investasi kelompok jasa terkait data center menembus Rp114 triliun atau 11,3% dari total investasi nasional sepanjang semester I 2026.
Namun, isu pasokan listrik dan perizinan yang belum terintegrasi disebut IDPRO sebagai tantangan utama, berbeda dengan Malaysia dan Thailand yang sudah menerapkan perizinan satu pintu.
Dengan beberapa klaster data center, Batam, Greater Jakarta, dan berikutnya Batang, Indonesia punya modal besar untuk menangkap spillover data center regional. Asalkan pembenahan dalam penyediaan listrik dan regulasi berjalan dan terus ditingkatkan seiring derasnya arus investasi.
Penulis : Roki Abdillah
Sumber :
https://kfmap.asia/research/data-centres-the-asia-pacific-report-q2-2025/4295
https://kfmap.asia/blog/data-center-salah-satu-primadona-kawasan-industri-di-indonesia/3948
https://katadata.co.id/
https://www.antaranews.com/
https://konstruksimedia.com/
https://www.bisnis.com/