Material Hijau: Fondasi Konstruksi Properti Berkelanjutan

Friday, 18 September 2026

Material hijau merujuk pada bahan bangunan yang dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan sepanjang siklus hidupnya, mulai dari proses produksi, penggunaan, hingga daur ulang.

Dalam gelaran ARCH:ID 2026 yang berlangsung 23-26 April di ICE BSD, isu material ramah lingkungan menjadi salah satu fokus utama, dengan teknologi pelapis berbasis air atau water-based coating disorot karena memiliki kandungan emisi volatil (VOC) lebih rendah dibandingkan dengan produk berbahan pelarut.

CEO Propan Raya, Kris Rianto Adidarma, menyebutkan bahwa kebutuhan akan material yang lebih sehat dan ramah lingkungan terus meningkat seiring tuntutan ruang hidup yang lebih baik.

Selain pelapis rendah emisi, tren material hijau di konstruksi properti juga mencakup beton rendah karbon, panel daur ulang, dan insulasi ramah lingkungan yang dinilai mampu meningkatkan nilai bangunan sekaligus efisiensi energi.

Pemerintah turut mendorong transisi ini melalui insentif berupa subsidi untuk material berlabel Hijau atau Green Label, sementara material konvensional mulai dikenakan penyesuaian pajak karbon, sebagaimana tercermin dalam analisis harga material bangunan pada Maret 2026.

Momentum tersebut juga terlihat dalam Indonesia Green Building Festival 2026 yang diselenggarakan oleh SIG bersama Green Building Council Indonesia (GBCI) di lima kota. Forum ini membahas bagaimana inovasi material dapat diintegrasikan dengan desain dan performa bangunan untuk mendukung konstruksi rendah karbon, mulai dari aspek kebijakan, perencanaan, hingga pemilihan material.

Dari perspektif investor, riset (Y)our Space Digest Spring 2026 dari Knight Frank mencatat bahwa sembilan dari sepuluh pelaku Corporate Real Estate (CRE) secara global kini memandang aset properti sebagai aset strategis, dengan lebih dari dua pertiga responden (68%) menjadikan efisiensi operasional dan manajemen biaya sebagai tujuan utama strategi real estate mereka.

Pertimbangan sertifikasi keberlanjutan seperti BREEAM dan NABERS turut menjadi bagian dari upaya efisiensi tersebut. Salah satu laporan turunan dalam seri riset yang sama, "Portfolio in Motion: How Agility, Intelligence and ESG Are Rewriting Corporate Real Estate", juga menegaskan bahwa aspek ESG kini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam strategi portofolio properti korporasi, sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap bangunan yang menggunakan material dan desain rendah karbon.

Perkembangan gedung bersertifikasi hijau di Indonesia diharapkan dapat terus progresif, baik dari segi kuantitas maupun kualitas layanan gedung, agar mampu menuju capaian lingkungan yang berkelanjutan.

Selain itu, berbagi peran dan memahami peran merupakan hal utama yang perlu dipahami oleh setiap pemangku kepentingan di wilayah perkotaan.

 

Penulis : Roki Abdillah

Sumber :

https://kfmap.asia/research/your-space-digest-spring-2026/5001

https://kfmap.asia/contact-us/service/4/property-and-engineering-services

https://www.suara.com/

https://potensinetwork.com/

https://www.sobatbangun.com/

Share:
Back to Blogs