Green Design: Strategi Properti untuk Menghadapi Panas Perkotaan

Friday, 9 October 2026

Beberapa bulan terakhir, warga Jakarta merasakan suhu udara yang lebih panas dari biasanya. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi ini dipengaruhi oleh radiasi matahari yang cukup kuat akibat minimnya tutupan awan. Beberapa wilayah sempat mengalami peningkatan suhu hingga 35,6°C, yang membuat aktivitas luar ruangan semakin tidak nyaman.

Fenomena ini erat kaitannya dengan Urban Heat Island (UHI), sebuah kondisi kota yang terasa lebih panas dibandingkan dengan lingkungan atau wilayah sekitarnya. Permukaan beton, kaca, dan aspal yang melingkupi perkotaan menyerap serta menyimpan panas, sementara kepadatan kendaraan dan penggunaan pendingin ruangan semakin memperkuat akumulasi hawa panas. Dampaknya terasa pada kenyamanan masyarakat, konsumsi energi, dan kualitas lingkungan. 

Kawasan dengan suhu tinggi meningkatkan kebutuhan akan pendinginan bangunan yang secara langsung dapat menyebabkan biaya operasional bangunan membengkak. Meskipun demikian, mitigasi cuaca panas dapat dilakukan dengan implementasi desain yang lebih hijau dan adaptif. 

Implementasi green design pada pengembangan properti pada hakikatnya tidak hanya untuk menjaga keberlanjutan lingkungan di sekitarnya, tetapi juga untuk menjaga nilai properti dan mempertahankan daya tarik kawasan dalam jangka panjang. Properti yang nyaman, teduh, dan sejuk, atau yang secara khusus menerapkan prinsip green building, akan meningkatkan durasi kunjungan sehingga berpengaruh positif terhadap aktivitas ekonomi di dalamnya. 

Salah satu strategi efektif adalah shaded walkway atau jalur pejalan kaki teduh, khususnya pada area ritel. Naungan dari pepohonan, kanopi, atau struktur peneduh lainnya dapat menurunkan suhu permukaan dan meningkatkan kenyamanan pejalan kaki. Jalur ini tidak hanya berfungsi menggabungkan gedung dengan pusat ritel, tetapi juga mendorong mobilitas aktif sehingga meningkatkan arus pengunjung. 

Pendekatan lain yang relevan dan sudah dilakukan di banyak negara lain adalah penerapan underground concourse. Konsep ini kini sedang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT MRT Jakarta melalui pembangunan extended concourse bawah tanah yang menghubungkan stasiun MRT dengan bangunan di sekitarnya. Pembangunan koneksi bawah tanah tersebut memungkinkan sirkulasi yang nyaman antar-fungsi perkotaan tanpa paparan panas matahari di permukaan.

Ke depannya, kombinasi shaded walkway, extended concourse, dan green building akan menjadi strategi kunci dalam memitigasi panas perkotaan sekaligus meningkatkan nilai dan daya tarik properti. Kawasan yang nyaman dan hijau tidak hanya akan mengurangi dampak UHI, tetapi juga menciptakan pengalaman berbelanja di ruang ritel dengan aktivitas yang lebih menarik, mendukung keberlanjutan lingkungan, dan memperkuat investasi jangka panjang di kota tropis, khususnya di Jakarta. 

 

Penulis: Nareswari Dahayu

Sumber:

https://kfmap.asia/blog/extended-concourse-penambahan-koneksi-bawah-tanah-antara-stasiun-mrt-dan-bangunan-publik/4767 

https://megapolitan.kompas.com/

https://www.detik.com/

https://thecityfix.com/

https://environesia.co.id/

Share:
Back to Blogs