Eki stamps, atau secara harfiah disebut stempel stasiun dalam bahasa Indonesia, merupakan praktik budaya transportasi yang berasal dari Jepang berupa stempel unik di stasiun yang dapat dikoleksi oleh pengguna sebagai suvenir perjalanan.
Tercatat muncul sejak 1931, kini budaya ini tersebar luas di ribuan stasiun di Jepang dan mulai merambah ke Indonesia dengan desain yang merepresentasikan identitas lokal seperti landmark, budaya, bahkan makanan khas. Aktivitas mengumpulkan stempel ini berkembang menjadi “stamp rally”, yaitu permainan koleksi lintas lokasi yang mendorong pengguna transportasi umum untuk menjelajahi berbagai destinasi.
Konsep tersebut telah diadopsi di Indonesia, khususnya pada MRT dan LRT Jakarta. Bagi penyedia transportasi umum, program stempel perjalanan ini mampu meningkatkan ridership, khususnya pada stasiun yang sepi. Sebagaimana menguntungkan bagi transportasi itu sendiri, program tersebut juga menghadirkan pengalaman baru bagi pengguna transportasi publik untuk menikmati perjalanan sebagai aktivitas rekreatif. Inisiatif ini bahkan disebut sebagai “stamp hunting” yang viral dan menjadi bagian dari pengalaman budaya urban baru.
Dari perspektif pariwisata, eki stamps terbukti mampu meningkatkan daya tarik destinasi. Setiap stempel yang merepresentasikan identitas lokal berfungsi sebagai media promosi tidak langsung, karena mendorong pengguna untuk mengunjungi lebih banyak stasiun, bahkan meluas ke kawasan di sekitarnya. Praktik ini menjadikan stasiun sebagai titik wisata mikro, bukan sekadar infrastruktur transportasi. Pengguna transportasi umum terdorong untuk menjelajahi, mendokumentasikan, dan membagikan pengalaman mereka, sehingga menciptakan tren dan memperluas jangkauan promosi wisata.
Apabila menilik lebih dalam, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep “gamification of urban mobility” yang dibahas dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Jepang, yang menyebutkan bahwa mobilitas dikomodifikasi melalui elemen permainan seperti pengumpulan, tantangan, dan reward. Transportasi publik tidak lagi hanya mendukung aktivitas konsumsi (moving for consuming), tetapi menjadi bagian dari konsumsi itu sendiri (moving is consuming). Pengguna transportasi umum menikmati perjalanan sebagai pengalaman bernilai, bukan sekadar sarana menuju tujuan akhir.
Implementasi eki stamps di MRT dan LRT Jakarta menunjukkan transformasi paradigma transportasi publik yang kini mendapat dukungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk memperluas praktiknya di destinasi wisata lain.
Melalui pendekatan gamifikasi dan integrasi budaya lokal, sistem transportasi mampu meningkatkan engagement pengguna sekaligus memperkuat daya tarik wisata kota. Hal ini membuka peluang bagi pengembangan transportasi berbasis pengalaman (experience-based mobility) yang lebih inovatif dan berkelanjutan di masa depan.
Penulis: Nareswari Dahayu
Sumber:
https://www.lrtjakarta.co.id/
https://20.detik.com/
https://smartcity.jakarta.go.id/
https://koran-jakarta.com/
https://www.researchgate.net/