Memahami Transit Oriented Development (TOD): Konsep Kawasan yang Terintegrasi dengan Transportasi

Friday, 9 October 2026

Perkembangan kota-kota besar saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari kemacetan lalu lintas, keterbatasan lahan, hingga meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat. Salah satu pendekatan yang mulai banyak diterapkan untuk menjawab tantangan tersebut adalah konsep pengembangan kawasan berbasis Transit-Oriented Development (TOD). Konsep ini tidak hanya berkaitan dengan transportasi, tetapi juga menyangkut cara kota dirancang agar lebih efisien, nyaman, dan berkelanjutan.

Secara umum, TOD adalah pendekatan perencanaan kota yang mengintegrasikan sistem transportasi umum dengan pengembangan kawasan perkotaan. Dalam konsep ini, kawasan hunian, perkantoran, dan fasilitas publik dirancang agar berada dalam jarak yang mudah dijangkau dari simpul transportasi umum. 

Di Indonesia, konsep TOD mulai menjadi perhatian penting dalam kebijakan pembangunan nasional. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata menyampaikan bahwa TOD menjadi salah satu pendekatan utama untuk mewujudkan kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berbudaya, hijau, dan berketahanan. 

Kebutuhan terhadap konsep TOD menjadi semakin relevan jika melihat kondisi mobilitas di kawasan metropolitan seperti Jakarta. Kota ini berkembang sangat pesat dengan jumlah kendaraan pribadi yang mencapai lebih dari 18,6 juta unit. Di sisi lain, penggunaan transportasi umum masih relatif rendah, yakni sekitar 24% dari total perjalanan. Aktivitas mobilitas di wilayah Jabodetabek juga sangat tinggi, dengan sekitar 47,5 juta pergerakan orang setiap hari.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta tahun 2015 menunjukkan bahwa setiap hari terdapat sekitar 1,4 juta pelaju dari wilayah sekitar yang masuk ke Jakarta untuk bekerja atau beraktivitas. Tingginya mobilitas ini menunjukkan bahwa kawasan metropolitan Jakarta memiliki ketergantungan yang besar terhadap perjalanan harian antarwilayah.

Permasalahan semakin kompleks karena pertumbuhan kawasan perkotaan di Jabodetabek berlangsung sangat cepat dan sering kali tidak terkendali. Banyak kawasan berkembang dalam bentuk permukiman dan bangunan berlantai rendah. Diperkirakan hampir 64% wilayah Jakarta didominasi oleh bangunan berlantai rendah, yang menyebabkan pemanfaatan lahan menjadi kurang efisien. 

Dalam konteks inilah konsep TOD menjadi penting. Dengan mengembangkan kawasan berorientasi transit, pembangunan kota dapat diarahkan untuk lebih kompak, terintegrasi dengan transportasi umum, dan efisien dalam penggunaan lahan. Kawasan di sekitar transportasi umum dapat dimanfaatkan untuk hunian, perkantoran, serta aktivitas ekonomi lainnya sehingga mobilitas masyarakat menjadi lebih mudah.

Pada akhirnya, Transit Oriented Development bukan hanya tentang membangun transportasi umum, tetapi juga tentang menciptakan pola pembangunan kota yang lebih terstruktur, efisien dan berkelanjutan. Melalui integrasi antara tata ruang dan sistem transportasi, TOD diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang produktif.

 

Penulis: Farah Septiawardahni

Sumber:

https://kfmap.asia/blog/jakarta-dorong-transformasi-kota-lewat-rencana-tod-tiga-stasiun-strategis/4474

https://jakartamrt.co.id/
https://www.ekon.go.id/

Share:
Back to Blogs