Ketika Energi Jadi Aset Strategis: Dampak Krisis Energi terhadap Sektor Properti

Friday, 25 September 2026

Ketegangan geopolitik global sepanjang 2025-2026, mulai dari eskalasi konflik di Timur Tengah hingga ancaman penutupan Selat Hormuz, telah mengubah energi dari sekadar komoditas menjadi aset strategis yang menentukan arah investasi di sektor properti.

Krisis energi global yang dipicu oleh dinamika geopolitik tersebut mendorong Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) untuk memperingatkan risiko lonjakan beban subsidi dan tekanan fiskal nasional, sebuah kondisi yang pada akhirnya merembet ke biaya produksi dan pembangunan properti.

Di sisi tarif listrik, pemerintah melalui Kementerian ESDM sejauh ini menahan kenaikan tarif nonsubsidi sepanjang 2026. Golongan industri I-3 tegangan menengah di atas 200 kVA dipertahankan sebesar Rp1.114,74 per kWh.

Sementara golongan I-4 tegangan tinggi dikenakan Rp996,74 per kWh. Kebijakan ini meredam biaya operasional langsung, namun tekanan struktural dari harga energi global tetap membayangi daya saing kawasan industri.

Tekanan tersebut terasa nyata di sektor konstruksi. Wakil Ketua Umum REI, Bambang Ekajaya, menyebut konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum tuntas turut mengerek biaya konstruksi, karena material seperti semen, besi, baja ringan, dan cat mengalami lonjakan harga akibat terganggunya biaya produksi dan distribusi global.

Pelemahan rupiah memperparah situasi tersebut karena penguatan dolar AS berujung pada naiknya harga komponen vital seperti bahan konstruksi, mekanikal-elektrikal, dan material finishing impor.

Sektor data center menjadi contoh paling konkret bagaimana energi menjadi penentu nilai properti. Knight Frank Data Centre Atlas 2026 mencatat tingkat kekosongan (vacancy) kolokasi pusat data di Jakarta mencapai 20,5%, jauh lebih tinggi dibandingkan Johor yang hanya 0,7%, mengindikasikan Jakarta masih kalah bersaing dalam menyerap permintaan pusat data dibandingkan kawasan tetangga.

Salah satu faktor pembedanya adalah biaya energi. Kenaikan tarif listrik serta air di kawasan sekitar Johor disebut dapat menambah biaya listrik hingga RM120 juta per tahun untuk fasilitas berkapasitas 50 MW, sebuah beban yang langsung memengaruhi kalkulasi kelayakan investasi pusat data di kawasan tersebut. Hal tersebut menunjukkan betapa sensitifnya keputusan investasi ini terhadap struktur biaya energi.

Bagi pelaku investasi properti, krisis ini menuntut strategi mitigasi: efisiensi energi bangunan, diversifikasi sumber listrik, dan kalkulasi ulang biaya operasional jangka panjang, agar daya saing aset tetap terjaga di tengah gejolak harga komoditas energi.

 

Penulis : Roki Abdillah

Sumber :

https://kfmap.asia/research/data-centre-atlas-2026/5191

https://www.kompas.com/

https://theedgemalaysia.com/

https://www.nst.com.my/

https://www.bisnis.com/

https://www.esdm.go.id/

Share:
Back to Blogs